Namaku Darmi. Ya, Darmi saja. Ndak pakek nama belakang. Tapi orang-orang lebih suka memanggilku Yu Darmi. Janda, anak satu. Umur lagi mateng-matengnya.
Aku dari Tayu, desa kecil di Pati, Jawa Tengah. Bapakku petani gurem. Simbokku mantan penari tayub. Bapak bilang, dulu simbok itu idola para pemuda. Setiap kali ada yang nanggap, pulangnya simbok bawa duit banyak. Simbok juga bawa oleh-oleh boneka kayu buat aku.
Aku kawin muda. Begitu aku punya bulu, aku dilamar. Suamiku — aku lupa namanya — sopir truk, minggat setelah kecantol perempuan pemilik warung nasi di kota. Anak lanangku satu-satunya lalu kutitipkan sama simbok di desa. Aku pernah sekolah, sampai SD. Aku bisa baca-tulis, sedikit-sedikit. Tapi aku ndak punya keahlian apa-apa, selain mengangkang. Aku punya motto: miring penak, njengking monggo [menakjinggo].
Orang bilang wajahku mirip artis sinetron. Tapi aku ndak tahu artis yang mana itu. Kulitku kuning mulus, kayak simbok. Hidung mbangir. Bibir merah merekah. Tubuhku bahenol. Dadaku padat berisi, montok, 36B. Rambutku hitam, panjang. Buluku … Hush, biar aku saja yang tahu.