Elok tenan ibune bocah-bocah. Mangsud saya ya bojo saya. Di sebuah tempat dia ketemu ibu-ibu lain yang ndak dikenalnya. Lantas ibu-ibu itu mencerca Maria Eva habis-habisan. Nyonya saya enak saja bilang, “Lah, yah ndak apa-apa to?”
Ibu-ibu itu gemas. Nyonya saya diguncang-guncang, sambil dikatai, “Wah ibu ini… Kalo situ tinggal di kompleks saya sudah dikeroyok abis sama ibu-ibu.”
Lantas persoalan berbelok ke Aa Gym yang kawin lagi. Intinya ibu-ibu nolak poligami. Bahkan kaum ibu di kompleksnya sudah sepakat untuk memboikot pengajian Aa.
Nah, si ibu vokal yang gemar ikut demo itu bilang, “Kalo niatnya lelaki tuh nolong janda, ya kawinilah janda jelek tua miskin di pinggir jalan. Kalo nyarinya janda yang cantik, bo’ong kalo niatnya nolong. Pasti ada nafsunya. Harus kita tentang! Ya nggak?”
Ibu-ibu lain setuju. Hanya nyonya saya yang ndak sepakat. “Lha bangeten kalo laki-laki ngambil istri lagi dari kalangan kayak gitu. Niat kawin lagi ya antara lain karena nafsu to? Lelaki normal itu nyarinya yang cantik to?” katanya.
Si ibu vokal berseru, “Wah parah ibu ini. Gimana sih?”
Ini namanya istri yang memahami priyayi kakung!
Jadi, saya boleh berpoligami dong? Ternyata ndak.
Tapi saya juga paham dan setuju. Lha wong satu bini saja sudah repot kok mau ngrangkep. “Uh enak saja bilang ngrepoti. Awas ya!” kata simbokne bocah-bocah.
“Kalo jajan?” tanya saya. Dia bilang, banyak jajanan yang nggak hegienis. Mana biting pincuk bisa bikin infeksi pula.
Ya sudah, nggak jajan tapi dapat yang higienis, piye? Jawabannya adalah cubitan. Aduh! Ngono ya ngono ning aja ngono, katanya.
Untung saya sudah sepuh, loyo, mengkis-mengkis, mengguk. Selain nggak menarik juga ndak sanggup nakal-nakalan. Lebih untung lagi, warning ndak berlaku surut.