Lho apa masalahnya anggota DPR yang-yangan atau indehoi sambil bikin pilem sendiri?

“Ini menyangkut akhlak. Lebih khusus lagi kesehatan. Ndak bisa orang berhubungan sembarangan…” kata Mas Mantri.

“Kalo saya bukan itu. Bagemanapun puncak karier penyanyi itu harus diperjuangkan, tapi bukan berarti boleh jadi sasaran eksploitasi orang macam Yaini Zahya yang mengurusi bidang rohani dan Rohana, tapi lagi ke Ustrali studi banding di King Cross,” tukas Nita yang mau ganti nama Nita ME (master eh mistress of entertainment).

Lain lagi Yu Darmi: “Persoalannya mbayar apa ndak. Mau wakil rakyat, wakil lurah, wakil ketua dewan mahasiswa, hukumnya sama. Kalo harga sudah disepakati ya kudu dilunasi.”

Saya nggak habis pikir sama orang-orang ini. Taruh kata itu menyangkut PMS, ya risiko. Kalo itu jebakan dalam ambisi mengejar karier sebagai biduanita, itu risiko. Kalo bayaran ndak jangkep, ya risiko.

Maka saya bilang, “Taruh kata sampeyan semua benar, tapi itu masalah mereka sendiri to? Itu bukan masalah segenap rakyat. Ngapin kita repot?”

Mereka ndak terima, dengan argumentasi sama: pilem itu. Tidak bagus untuk anak bawah umur, bisa merugikan partai besar maupun eceran.

“Terbukti,” kata saya, “sampeyan semua ndak mutu!”

Saya tegasken, “Maksud saya bermutu sih, tapi rendah. Kalian itu ngidap sakit jiwa. Nonton bokep ndak suka, dengan alasan itu cuma akting, palsu belaka. Tapi nonton kegiatan pribadi malah suka dengan alasan itu asli. Lha apa bedanya dengan ngintip? Kata anak saya yang pernah kuliah, itulah yang namanya voyager!”

“Ngawur!” kata Mas Mantri. “Yang bener,” lanjutnya, “voyeurism!”

“Lha ya itu yang saya maksudkan. Memang tadi saya bilang apa? Kuping kalian memang kudu dibersihin pake korokan gendul!”

“Kan asyik to, Ndoro?” tanya Wiji sok malu-malu.

“Lha itu sejenis ngintip anak-anak Bandung dulu itu. Bukan lewat lubang kunci atau celah gedek, tapi lewat video. Memalukan ngintip gituan. Kalo pengin ya lakukan sendiri!”

“Emang Ndoro sudah punya videonya?” tanya Nita.

“Belum. Jangan sampai punya, apalagi beli. Tapi kalo dikasih liat ya gimana gitu… Eh asyik ndak sih?”