Hadoh, hadoh, hadoh….Kere kabeh. Pagi-pagi sudah brisik, cangkeman semua. Mentang-mentang cangkemnya lebih dari satu. Emangnya yang punya cangkem itu cuma situ? Emangnya saya ndak punya kuping apa ya? Heran aku….Apa sih yang diributin?

Nitaaaaa ….. Wijiiiiiiiiiii…. Sini, kamu! Siapa tadi yang nyebut-nyebut lonta-lonte. Asal aja. Mau nyindir ya? Nyindir aku? Ndak suka aku dadi lonte? Bilang! Aku ini bukan lonte tauk! Catet ya, catet. Aku ini pekerja seks komersial. P-E-K-E-R-J-A. Ya pekerja. Artinya orang yang bekerja. Orang yang bekerja itu propesional. Dibayar. Ndak gratisan.

Aku bukan lonte biasa yang mau ngapain aja, sama siapa saja. Aku ndak kayak gitu. Lonte itu kesannya kelas bawah. Ndak level. Aku kelas atas. Ingat ya, lonte dan pekerja seks komersial itu lain. Beda. Ngerti kamu!?!?

Jelek-jelek gini aku tuh ndak seperti yang lain. Aku bukan pekerja yang gampangan, yang mau diajak siapa-siapa. Aku milih-milih, selektip. Klienku — ingat, klien ya, bukan pelanggan atau pejajan — itu orang-orang berduit. Aku ndak sembarangan terima klien. Ngerti kamu!?!

Sudah sana, minggat semua. Minggaaaat … Aku mau pakai kamar mandi. Minggir … Minggiiiir …

Hadoh, hadoh, hadoh …. Wijiiiiiiiiii … Nitaaaaaa … Ini siapa yang buang limbah sembarang kalis, bau peteeee pulak? Semprul, sontoloyo, gombal mukiyo, trembelane, kere, munyuuukkkkk … Cuih, cuih!